HOME // Nasional // Pendidikan

Dokumen Deklarasi Ekonomi Djuanda 1960, Sejarah Desain Presiden Sukarno

 Pada: Rabu, 31 Januari 2018
MOJOKERTO. kompaspublik.com- Banyak orang yang tidakk tahu, bahwa Bung Karno salah satu Presiden yang amat mengerti tata ruang kota dan tata ruang wilayah geopolitik. Dia sendiri sudah mendisain seluruh wilayah Indonesia dengan bagian-bagian pembangunannya, hal ini menjadi satu bagian dari dokumen Deklarasi Ekonomi Djuanda 1960.
Kebanyakan kita mengetahui, Sukarno hanyalah seorang arsitek yang gemar mendisain patung. Disain rumah karyanya, hanyalah beberapa di Bandung yang ia gambar saat bekerja pada Insinyur Rooseno, atau ketika ia baru lulus kuliah THS (ITB), membuat jembatan-jembatan kecil di Jawa Barat.
Bahkan secara sarkastis, mahasiswa-mahasiswa anti Sukarno pada tahun 1965, meledek Bung Karno sebagai “Orangtua pikun, patung kok dikira celana,…”. Hal itu untuk meledek pidato Sukarno, bahwa patung itu seperti celana, sebagai sebuah kehormatan bangsa.
Padahal Sukarno adalah seorang pemikir yang mendisain bukan saja patung-patung yang kebanyakan meniru model Eropa Timur. Ia bahkan #mendisain kota-kota besar masa depan #Indonesia.
Di tahun 1958, setelah pengusiran warga Belanda dan pengambilalihan modal-modal Belanda sebagai bagian pernyataan siap perang Indonesia, dengan merobek-robek perjanjian KMB, Sukarno sudah merancang Djakarta menjadi kota tempur.
Seperti kota Singapura, seluruh bujur jalannya lurus-lurus dan lebar sekali, sebenarnya itu disiapkan untuk menjadi markas atas penguasaan wilayah Asia Tenggara.

Bagi Bung Karno stabilitas Asia Tenggara adalah segala-galanya, untuk melepaskan Indonesia dari politik ketergantungan modal dan politik invasi wilayah-wilayah produk (apa yang ditakutkan Sukarno pernah diucapkan pada Djuanda; “Amerika sekarang tak lebih dengan Belanda, mereka tak berminat terhadap kesatuan wilayah, mereka hanya berminat wilayah-wilayah kaya modal, wilayah produktie, inilah yang menyamakan mereka dengan Belanda di tahun 1947, dimana agresi militer mereka dinamakan dengan sandi “Operatie Produkt”).
Wilayah-wilayah yang jadi prioritas Sukarno setelah siap perang dengan Belanda adalah “Irian Barat”. Karena merebut Irian Barat menjadi satu bagian NKRI, adalah satu syarat, agar bangsa ini menjadi paling kuat di Asia.
Selain Irian Barat yang menjadi perhatian penting Bung Karno, adalah “Kalimantan”. Awalnya Semaun yang membawa saran tentang perpindahan ibukota (Semaun adalah konseptor besar atas tatanan ruang kota-kota satelit Sovjet Uni di wilayah Asia Tengah, dan ini kemudian disambut antusias oleh Bung Karno, selama satu tahun penuh Bung Karno mempelajari soal Kalimantan ini. Sehingga Ia berkesimpulan, “masa depan dunia adalah pangan, sumber minyak dan air. Pertahanan militer bertumpu pada kekuatan Angkatan Udara”.
Bung Karno membagi dua kekuatan besar, pertahanan nasional dalam dua garis besar: Pertahanan Laut di Indonesia Timur dengan Biak menjadi pusat armadanya (ini sesuai dengan garis geopolitik Douglas MacArthur), dan Pertahanan Udara di Kalimantan. Menurut Bung Karno, ia mencari kota yang tepat untuk menjadi ‘Pusat Kalimantan’.
Pada suatu malam, di hadapan beberapa orang, Bung Karno dengan intuisinya mengambil mangkok putih di depan peta besar Kalimantan. Ia menaruh mangkok itu ke tengah-tengah peta. Kemudian Sukarno berkata dengan mata tajam ke arah yang mendengarnya, “Itu Ibukota RI!”
Bung Karno menunjuk satu peta di tepi sungai Kahayan. Lalu Bung Karno ke tepi Sungai Kahayan dan melihat sebuah pasar yang bernama Pasar Pahandut. Dari pasar inilah, Bung Karno mengatakan, “Ibukota RI dimulai dari sini!”
Ucapan itu sama persis dengan ucapan Daendels di depan Asisten Bupati Sumedang, saat membangun jalan darat Pos Selatan, untuk gudang arsenal Hindia-Perancis, ketika itu ia menunjuk satu tempat yang kita kenal sekarang sebagai Bandung. “Bandung jadi titik nol wilayah pertahanan Jawa”.
Bung Karno kemudian menyusun dasar-dasar kota administrasi provinsi, dengan dibantu eks Gubernur Jawa Timur, RTA Milono. Pada saat penyusunan birokrasi itu, Bung Karno sedang menyiapkan cetak biru besar tentang rancangan tata ruang negara dari Sabang sampai Merauke.
Antara Pulau Sumatera, Jawa, dan Bali, akan dibangun terowongan bawah tanah. Karena rawan gempa, Bung Karno meningkatkan armada pelabuhan antar pulau, dengan memesan kapal dari Polandia.
Tapi rencana membuat channel seperti di selat Inggris tetap diprioritaskan, bahkan menjelang kejatuhannya, di tahun 1966, ia bercerita tentang channel bawah tanah yang menghubungkan Pulau Sumatera, Jawa, dan Bali.
Pusat pelabuhan dagang bukan diletakkan di Jawa, tapi di sepanjang pesisir Sumatera Utara, Kalimantan, Sulawesi. Sukarno mempersiapkan rangkaian pelabuhan yang ia sebut sebagai “Zona Tapal Kuda”. Wilayah Jawa dan Bali dijadikan pusat lumbung pangan.
Kota-kota baru dibangun. Pilot projectnya adalah Palangkaraya dan Sampit. Setelah itu, Jakarta juga dibangun untuk display ruang atau model kota modern. (Twi).
Nara Sumber: Suwari. SH
Baca Juga :  PKHD : Isu Sara Dimanfaatkan Secara Bebas dan Terbuka

Sudah dibaca : 98 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.